About Me

Foto saya
Saya berJiLbab,, Sopan,, Cuek,, Baik,,

Kamis, 15 Maret 2012

Peranan Staf dalam Organisasi

Organisasi....
    Manajemen....
Karyawan....  Staf......

 Semuanya itu pastinya saling berhubungan, apalagi dalam sebuah perusahaan ataupun pada sebuah perkumpulan. Pada pengertiannya Organisasi adalah suatu kelompok orang - orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama di bawah kepemimpinan. (Ralp Currier Davis (1951)). Organisasi ini juga tercipta dalam suatu Manajemen yang memiliki pengertian suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan pekerjaan anggota organisasi serta menggunakan semua sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (James A. F. Stoner, dkk. (1996)). 
 Pada blog ini saya akan mencoba menuliskan Macam - Macam Staf dan Fungsi dari Staf itu sendiri,,, sekaligus sebagai tugas dari Dosen saya.... (hehehehhhheee.... ^^ )

 Telah kita ketahui di dalam sebuah organisasi kecil ataupun organisasi besar tentunya memiliki susunan keanggotaan yang terdiri dari seorang ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, dan tentunya anggota. Anggota   dijelaskan dalam suatu organisasi bentuk lini dan staff ada 2 (dua) kelompok tenaga kerja, yaitu Kelompok Pertama adalah mereka yang tugas utamanya besifat menterjemahkan tugas pokok menjadi aktivitas, sedangkan pada pihak Kedua terdapat mereka yang tugasnya melakukan kegiatan-kegiatanpenunjang demi lancarnya kinerja organisasi dan mekanisme kerjasama yang harmonis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pada kedua kelompok ini memiliki peranan penting dalam merealisasikan tujuan organisasi secara efektif dan efisien.


 Menurut bidangnya staf dibagi menjadi fungsi-fungsi yang ada di perusahaan, seperti staf personalia, staf pengembangan, staf perencanaan, staf pemasaran dan staf - staf lainya. Jenis staf menurut banyaknya pemimpin yang dilayani dibedakan menjadi :

1. Staf Khusus adalah staf yang memiliki tugas untuk memberikan saran, konsultasi, bantuan serta melayani seluruh Lini dan unsur organisasi. Sifat khusus staf spesialis yaitu :
  • Terbatas dalam pemberian nasihat dan bantuan serta tidak mempunyai kekuasaan terhadap elemen - elemen dalam organisasi.
  • Nasihat dan bantuanyan diberikan kepada seluruh bagian dan seksi.
  • Nasihat dan bantuannya hanya untuk suatu lapangan tertentu.
2. Staf Pribadi adalah staf yang memiliki tugas memberikan saran, bantuan, dan jasa kepada manjer. Staf ini sering disebut asisten yang mempunyai tugas bermacam - macam untuk satu atasan dan biasanya bersifat generalis. Umumnya diperbantukan manajer tingkat tinggi (Top Manajer). Staf Pribadi ini dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
  • Staf Asisten disebut juga Asisten Manajer atau Asisten Director yang berposisi sebagai Lini atau hubungan Lini, yaitu hunbungan orang - orang dan komponen - komponen yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan perusahaan serta mempunyai wewenang mengambil keputusan akhir/terakhir mengenai hal yang berhubungan dengan tujuan. Staf Asisten meliputi; * Asisten to dan Executive Assistants memberi bantuan kepada pucuk pimpinan dalam suatu tugas pimpinan tertentu dan memberikan segala hal yang di perlukan. * Administrative Assistants memberikan layanan kepada seorang pimpinan dalam soal kecil administrasi. * Special Assistants memberikan layanan dalam bidang keahliannya kepada pimpinan .
  • Line Assistant adalah Assistant yang berada pada masing - masing fungsional yang ada pada dalam perusahaan, dan dia memberikan nasihat dan bantuannya pada bidang menurut fungsinya.
 Tugas-tugas yang dapat diberikan kapada karyawan staf antara lain adalah sebagai berikut :
a) Mengumpulkan data (fakta)
b) Mengintorarasikan data (fakta)
c) Mengusulkan alternatif tindakan
d) Mendiskusikan rencana-rencana yang sedang dipikirkan dengan berbagai hak dan memperoleh kesepakatan mereka atau memperoleh alasan mengapa rencana tersebut ditolak.
e) Mempersiapkan instruksi-instruksi tertulis dan dokumon-dokumen lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merupakan realisasi daripada rencana yang telah ditetapkan.
f) Mengamati kegiatan-kegiatan oporasional dan kondisi kondisi yang dihadapi untuk rnengadakan apakah struksi-instruksi telah dijalankan dengan baik dan apakah instruksi tersebut menghambat atau mempelancar proses pencapaian tujuan.
g) Mengusahakan pertukaran informasi antara para petugas-petugas oporasional mongenai pelaksanaan untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan koordinasi.
h) Meberikan infrmasi da nasehat kepada petugas-petugas oporasional mengenai pelaksanaan tugas–tugas yang telah didelegasikan kepada mereka.

Dari peranan staf dapat diketahui bahwa staf adalah hal yang diinginkan apabila :
a) Keterbatasan kemampuan pimpinan untuk melaksanakan tugas-tugas secara baik. Keterbatasan ini melingkupi ketarbatasan waktu, energi, pengetahuan, perhatian, pandangan dan sebagainya.
b) Tugas-tugas yang harus dijalankan belum dapat didelagasikan kepada bawahan karena :
     Ø  bawahan belum mempunyai kemampuan
    Ø  secara efektif dan efisien lebih tepat wewenang tersebut diberikan kepada spesialist dan lain  sebagainya.

Walaupun penggunaan staf dapat membantu terlaksananya pencapaian tujuan secara efektif dan akan tetapi parlu diingat bahwa pemakaian efisien,tenaga staf mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Menambah biaya adrninistrasi
b. Dapat menimbulkan kebingungan bahagian operasional karena sering mereka menerima instruksi dua atasan yaitu lini dan atasan fungsionil.
c.      Menambah kompleks hubungan kerja dalam organisasi.
d.    Staf biasanya terdiri dari tenaga spesialist.Karena itu pertimbangan dan nasehat-nasehat mereka dipandang dari pencapaian tujuan organisasi kurang terpadur.
e.       Keputusan yang harus diambil biasanya menjadi lambat dan sebagainya.






  1. http://www.freewebs.com/hijrahsaputra/makalah/IKLIM%20DAN%20KESEHATAN%20DALAM%20ORGANISASI.htm
  2. Arifin Imamul, W. Hadi Giana, 2007, Membuka Cakrawala Ekonomi, Bandung: PT Setia Purna Inves.
  3. Buku diktat kuiah, Pengantar Manajemen Umum
  4. http://digilib.usu.ac.id/download/fe/manajemen-friska.pdf (Mar 15 22:51:07 2012)

Jumat, 02 Maret 2012

Perbedaan Kekuasaan dan Wewenang

Kekuasaan....     Wewenang......
Siapa sih yang tidak pernah mendengar kata - kata itu.. ??" Apa lagi untuk mereka yang suka mengikuti pemberitaan....
Dalam pengertiannya Kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain; artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok. Kekuasaan juga berarti kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan, atau kejadian. 
Sedangkan menurut pendapat dari beberapa para ahli kekuasaan adalah :
  1. Menurut Gibson             :   Kekuasaan adalah Kemampuan seseorang untuk memperoleh seuatu sesuai dengan cara yang dikehendaki.
  2. Menurut Max Weber   :   Kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan - kemauannya sendiri dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan - tinakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.
  3. Menurut Lewin           :   Kekuasaan adalah kemampuan potensial dari seseorang/kelompok orang untuk mempengaruhi yang lain dalam sistem yang ada.
    Pada suatu negara tentunya terdapat suatu pemerintahan yang berkuasa, salah satunya adalah negara kita ini yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana negara kita menggunakan sistem pembagian kekuasaan berdasarkan Undang - Undang Dasar 1945. Pembagian kekuasaan pemerintahan seperti ini didapat dari  garis-garis besarnya dalam susunan ketatanegaraan menurut Undang-Undang Dasar 1945 adalah bersumber kepada susunan ketatanegaraan Indonesia asli, yang dipengaruhi besar oleh pikiran-pikiran falsafah negara Inggris, Perancis, Arab, Amerika Serikat dan Soviet Rusia. Aliran pikiran itu oleh Indonesia dan yang datang dari luar, diperhatikan sungguh-sungguh dalam pengupasan ketatanegaraan ini, semata-mata untuk menjelaskan pembagian kekuasaan pemerintahan menurut konstitusi proklamasi. 
    Pembagian kekuasaan pemerintah Republik Indonesia 1945 juga di pengaruh dari lingkungan luar yaitu diambil dari atas tiga kekuasaan, yang dinamai Trias Politica, seperti dikenal dalam sejarah kontitusi di Eropa Barat dan amerika Serikat.
   Ajaran Trias Politica diluar negeri pada hakikatnya mendahulukan dasar pembagian kekuasaan, dan pembagian atas tiga cabang kekuasaan (Trias Politica) adalah hanya akibat dari pemikiran ketatanegaraan untuk memberantas tindakan sewenang-wenang pemerintah dan untuk menjamin kebebasan rakyat yang terperintah.
Kekuasaan dalam negara dibagi menjadi tiga kekuasaan (Trias Politica) dalam buku  L’Espris des Lois yaitu :
  1. Legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang - undang.
  2. Eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang - undang.
  3. Legislatif, yaitu kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan undang - undang (mengadili).  (Montesquieu (1668-1755)).
Mari kita berlanjut membahas wewenang...

Wewenang itu sendiri memiliki pengertian yaitu 
hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini wewenang memiliki 2 pandangan dalam menentukan sumber wewenang yaitu :
  1. Pandangan Formal, bahwa wewenang di anugerahkan karena seseorang diberi atau dilimpahkan/diwarisi hal tersebut.
  2. Pandangan Penerimaan, bahwa wewenang seseorang muncul hanya bila hal itu diterima oleh kelompok/individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan.
 Chester Bernard mendukung pandangan tersebut dengan menulis :
  1. Komunikasi dapat dipahami
  2. Dapat dipercayai bahwa hal tesebut tidak menyimpang disaat keputusannya dibuat.
  3. Secara keseluruhan, dapat diyakini bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan pribadinya.
  4. Secara mental dan fisik mampu untuk mengikutinya.
    Kekuasaan (power) sering sekali dicampur adukan dengan pengertian wewenang. Kekuasaan itu sendiri memiliki arti sebagai suatu kemampuan untuk melakukan hak tersebut. Ada banyak sumber dari kekuasaan itu sendiri, dan keenam sumber kekuasaan tersebut dapat diringkas sebagai berikut :
    1. Kekuasaan balas – jasa.
    2. Kekuasaan paksaan.
    3. Kekuasaan sah.
    4. Kekuasaan pengendalian informasi.
    5. Kekuasaan panutan.
    6. Kekuasaan ahli.
Persamaan tanggung jawab dan wewenang adalah baik dalam teori, tetapi sangat sulit untuk kita capai. Dapat disimpulkan, wewenang dan tanggung jawab adalah sama dalam hal jangka panjang, dan dalam hal jangka pendeknya, tanggung jawab lebih besar peranann dan pengaruhnya dari pada wewenang itu sendiri.

Wah,,,
Ternyata kekuasaan dan wewenang itu berbeda, karena 
wewenang tanpa kekuasaan atau kekuasaan tanpa
wewenang akan menyebabkan suatu konflik dalam organisasi, maksudnya adalah seorang penguasa dikatakan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi mereka (bawahanya) yang bersifat menghasut sedangkan wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu atau bersifat suatu tindakan. Jadi dalam pemahaman dan pengertiannya berbeda, namun dalam penerapanya di saat kita memerintah, kedua sifat tersebut saling membutuhkan satu sama lainnya.


Sumber :
  1. C.S.T. Kansil, Ilmu Negara, Jakarta, PT. Pradnya Paramita, 2007 
  2. Abdy Yuhana, Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945, Bandung, Fokusmedia, 2007 
  3. Soehino, Hukum Tatanegara, Yogyakarta, Liberty, 1985 
  4. Drs. Chotib, Drs. H.M. Djazuli, Drs. H. Muchlis Catio, Drs. H. Suardi Abubakar, Drs. H. Tri Suharno, Kewarganegaraan 1 : Menuju Masyarakat Madani, Yudhistira, Cetakan Kedua Desember 2007.
  5. http://viyan.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/15113/2_WEWENANG,+DELEGASI+DAN+DESENTRALISASI.pdf (Mar 02 11:20:33 2012)
  6. http://fisip.uns.ac.id/blog/pandu/2010/05/31/kekuasaan/

Kamis, 12 Januari 2012

Kepemimpinan ( Leadership )

     Manusia disebut sebagai makhluk yang istimewa. Sebutan itu di karenakan manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia ini sebab, mereka di berikan akal dan pikiran agar dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk. Dalam hal ini manusia memiliki beberapa sifat di dalam dirinya, salah satunya adalah sifat Kepemimpinan. Sifat Kepemimpinan ini sangat baik ditanamkan pada diri manusia sejak dini karena sifat ini akan di perlukan ketika seseorang telah menjadi dewasa.

       Pada artikel ini saya akan membahas mengenai pengertian kepemimpinan dan macam - macam gaya kepemimpinan. Maka sebelum mengenal lebih jauh mari kita simak pengertian umum dari Kepemimpinan itu sendiri.

      Kata - kata pemimpin, memimpin dan kepemimpinan berasal dari satu kata dasar yaitu "pimpin" namun, dari ketiga pengertian tersebut memiliki arti yang berbedaan. Pengertian Kepemimpinan ada berbagai macam versi / pandangan, namun definisi kepemimpinan secara umum adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mendapatkan pengikut. Kepemimpina adalah terjemahan dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata leader. Kata leader muncul pada tahun 1300-an, sedangkan kata leadership muncul belakangan sekitar tahun 1700-an.

         Dalam definisi secara luas kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi prilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Maka Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas - aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan terhadap anggota kelompok.

       Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian / pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).

         Tapi untuk menambah pengetahuan kita, berikut berbagai pengertian dan kepemimpinan yang saya dapat dari beberapa sumber;
  1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu. (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
  2. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
  3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
  4. Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
  5. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
      Setelah mengetahui pengertian kepemimpinan diatas terlihat bahwa kepemimpinan memiliki arti yang sangat luas sehingga untuk diartikan secara umum pun amat sulit. Maka dalam penerapannya muncullah cara - cara memimpin dalam kehidupan ini atau disebut dengan Gaya Kepemimpinan. Tentunya setelah mengetahui arti kepemimpinan akan terasa kurang, bila kita belum mengetahui macam - macam gaya dari kepemimpinan itu sendiri. Disini saya akan mencoba menjelaskan Macam - Macam Gaya Kepemimpinan yaitu :

1. Gaya Kepemimpinan Otokratis
    Dalam usaha membawa mereka yang dipimpin menuju ke tujuan dan cita – cita bersama, pemimpin dapat memegang kekuasaan yang ada pada tangannya secara mutlak. Dalam gaya ini pemimpin bersikap sebagai penguasa dan yang dipimpin sebagai yang dikuasai. Termasuk ke dalam gaya ini kita menjumpai pemimpin – pemimpin yang :
   Mengatakan segala sesuatu yang harus dikerjakan oleh mereka yang dipimpin. Inilah gaya pemimpin diktator, yang dilakukan oleh pemimpin yang mengambil gaya ini hanyalah member perintah, aturan, larangan. Gaya kepemimpinan ini hanya baik untuk situasi – situasi di mana keadaan betul – betul kritis, di mana keselamatan mereka yang dipimpin berada di bawah kekuasaan orang yang memimpin. Gaya ini hanya baik untuk situasi yang kacau demi pulihnya tata kehidupan yang aman.

     2. Gaya Kepemimpinan Liberal
  Menurut gaya ini pemimpin tidak merumuskan masalah serta cara pemecahannya. Dia membiarkan saja mereka yang dipimpinnya menemukan sendiri masalah yang berhubungan dengan kegiatan bersama dan mencoba mencari cara pemecahannya. Gaya ini bertolak belakang dengan gaya otokratis yang disebut di atas. Dalam gaya ini tugas pemimpin sekedar menjaga agar mereka yang dipimpin berbuat sesuatu. Terserah mereka apa yang mau dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakan.
   Gaya ini hanya baik untuk kelompok orang yang betul – betul telah dewasa dan betul – betul insyaf akan tujuan dan cita – cita bersama, sehingga mampu menghidupkan kegiatan bersama. Gaya ini juga baik untuk kelompok orang yang berkumpul bukan untuk membicarakan hal – hal yang serius, melainkan untuk urusan bersantai bersama, macam malam keakraban atau jam session, yang tidak minta tanggung jawab besar.

     3. Gaya Kepemimpinan Demokratis
  Gaya ini menciptakan suasana yang demokratis. Dalam gaya ini pemimpin berusaha membawa mereka yang dipimpin menuju ke tujuan dan cita – cita dengan memperlakukan mereka sebagai sejajar. Di sini batas pemimpin dan bawahan menjadi kabur. Di sini orang diberi tempat yang sederajat. Termasuk ke dalam gaya kepemimpinan ini, kita jumpai pemimpin – pemimpin yang dalam usaha membawa mereka yang dipimpin menuju ke tujuan dengan :
   Menyajikan masalah serta cara pemecahannya kepada mereka yang dipimpin. Menghadapi masalah serta cara pemecahannya yang disajikan oleh pemimpin itu, mereka yang dipimpin bebas untuk menggarapnya : merubah, menambah, menyempurnakan. Pemimpin sendiri dengan senang hati menerima usul dan saran mereka. Berdasarkan saran – saran dan usul – usul itu, masalah dan cara pemecahannya dirumuskan secara baru. Apabila semua sudah setuju, pemimpin baru merumuskan masalah dan cara pemecahan itu secara definitif.
   Mengajak mereka yang dipimpinnya untuk bersama merumuskan masalah dan cara pemecahannya. Dalam gaya ini, pemimpin hanya merasa bahwa ada masalah dalam kegiatan bersama yang perlu ditangani. Tetapi dia sendiri belum melihat secara jelas. Untuk dapat melihat dengan jelas masalahnya dan menemukan cara pemecahan yang jitu, pemimpin mengikutsertakan semua orang yang dipimpinnya. Di dalam pembicaraan bersama itu dirumuskan bersama apa masalahnya dan bagaimana cara memecahkannya. Gaya kepemimpinan ini baik untuk kegiatan di kalangan orang – orang yang sudah dewasa yang bersifat permanen lagi mengarah ke tujuan dan cita – cita yang tinggi.

   Setelah mengetahui dan memahami pengertian ketiga gaya kepemimpinan diatas ternyata dari ketiganya  memiliki pemahaman dan penerapan sifat yang sangat jauh berbeda. Namun bila suatu saat saya akan menjadi seorang pemimpin, saya akan memilih Gaya Kepemimpinan Demokratis. Alasan saya memilih gaya demokratis ini karena seorang pemimpin yang demokratis selalu mengutamakan kebersamaan, dimana pemimpin berusaha membawa orang - orang yang dipimpinnya menuju ke tujuan dan cita – cita secara bersama - sama. Pemimpin yang demokratis juga selalu menghargai pendapat orang - orang yang dipimpinnya, sehingga menimbulkan sifat kebersamaan yang akan memudahkan dalam memecahkan suatu masalah. Gaya Demokratis juga merupakan suatu anutan gaya yang patut di banggakan karena pada negara Indonesia yang saya cintai juga menganut gaya kepemimpinan Demokratis.


     Sumber :
1.      Nurkolis., Drs. M.M. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah
2.      SJ., Mangunhardjana. A.M. 1999. Kepemimpinan. Yogyakarta

    Senin, 28 November 2011

    Mengelola Konflik Organisasi


    S
    etiap organisasi pasti sudah tidak asing lagi dengan sebuah permasalahan yang sering mereka hadapi dan mereka sering menyebutnya sebagai sebagai suatu konflik. Konflik yang mereka hadapi juga bermacam – macam, dari konflik yang kecil hingga konflik yang sangat besar. Konflik juga tidak hanya di rasakan oleh sebuah organisasi saja tapi sebagai individu kita juga pernah mengalami suatu konflik baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kuliah, lingkungan kerja dan lain sebagainya. Namun dalam tulisan ini saya akan lebih membahas mengenai konflik yang terjadi dalam suatu organisasi.

    Pengertian Konflik dan Konflik Organisasi
    Konflik (conflict) adalah sebuah proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki presepsi bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan mempengaruhi secara negatif sesuatu yang menjadi kepedulian atau kepentingan pihak pertama. Sedangkan Konflik Organisasi sendiri adalah suatu masalah yang timbul di lingkungan organisasi baik masalah yang kecil maupun masalah yang besar. Pastinya tidak ada masalah tanpa sebab, demikian juga tidak ada konflik jika tidak ada sebab yang menimbulkan konflik tersebut. Konflik dalam berorganisasi itu tidak selalu bersifat negatif, karena konflik bisa dijadikan sebuah alasan agar suatu organisasi menjadi lebih baik lagi. Konflik organisasi ini dapat juga kita bedakan melalui dua buah pandangan yang berbeda. Dua pandangan berbeda tersebut yaitu pandangan Tradisional dan pandangan Interaksi/Interaksionis.

    Pandangan Tradisional
    Pendekatan paling awal mengenai konflik adalah berpandangan bahwa semua konflik itu merupakan hal / peristiwa yang buruk. Konflik dipandang secara negatif dan digunakan sebagai persamaan dari istilah-istilah seperti kekerasan, kerusakan, dan irasionalitas, sekedar untuk memperkuat konotasi negatif. Konflik dari definisinya saja sudah berbahaya dan harus dihindari. Pandangan tradisional (traditional) ini sejalan dengan sikap yang dianut banyak orang menyangkut perilaku kelompok pada tahun 1930-an dan 1940-an. Konflik dipandang sebagai akibat disfungsional dari komunikasi yang buruk, tidak adanya keterbukaan dan kepercayaan antaranggota, serta ketidakmampuan para manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan mereka.
    Pandangan bahwa semua konflik buruk tentu saja merupakan sebuah pendekatan sederhana dalam mengamati perilaku orang yang menciptkan konflik. Karena semua konflik harus dihindari, kita hanya perlu mengarahkan perhatian pada sebab-sebab konflik serta mengoreksi kesalahan ini untuk memperbaiki kinerja kelompok dan organisasi. Meskipun saat ini studi-studi penelitian memberikan bukti yang kuat untuk menolak bahwa pendekatan terhadap berkurangnya konflik menghasilkan kinerja kelompok yang tinggi, namun banyak di antara kita yang masih mengevaluasi situasi konflik menggunakan standar yang sudah usang semacam ini.

    Pandangan  Interaksionis
    Pandangan interaksionis (interactionist) atau interaksi mendorong munculnya konflik dengan dasar pemikiran bahwa sebuah kelompok yang harmonis, damai, tenang, dan kooperatif biasanya menjadi statis, apatis, serta tidak tanggap terhadap perlunya perubanhan dan inovasi. Karena itu, sumbangan terbesar pandangan interaksionis adalah mendorong para pemimpin kelompok untuk mempertahankan terjadinya tingkat konflik minimum dimana cukup untuk menjaga kelompok tetap biasa bekerja, kritis terhadap diri sendiri, sekaligus kreatif.
    Pandangan interaksionis tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa semua konflik adalah baik. Hal ini karena beberapa konflik memang biasa mendukung pencapaian tujuan kelompok dan memperbaiki kinerjanya yaitu bentuk-bentuk konflik yang fungsional (fungtional) dan konstrukstif. Selain itu, terdapat konflik-konflik yang menghambat kinerja kelompok yaitu bentuk-bentuk konflik yang difungsional (dysfungional) dan destruktif. Dalam hal ini tentu kita dapat membedakan konflik fungsional dengan konflik disfungsional, bukti yang perlu diperhatikan adalah pada jenis konfliknya. Secara spesifik ada tiga tipe konflik yaitu tugas, hubungan, dan proses.
    Maka dari penjelasan kedua pandangan tersebut dapat saya simpulkan perbedaan dari pandangan tradisional dan pandangan interaksionis adalah dalam pandangan tradisional konflik dipandang dan diyakini bahwa semua konflik berbahaya dan harus kita hindari karena konflik akan membawa pengaruh yang buruk. Sedangkan pandangan interaksionis atau interaksi dipandang atau diyakini bahwa semua konflik bukan hanya merupakan suatu tindakan yang positif dalam sebuah organisasi tetapi juga merupakan suatu kepercayaan yang mutlak bagi sebuah organisasi untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Jadi pandangan tradisional menganggap konflik adalah hal yang sangat buruk sedangkan pandangan interaksionis konflik dianggap sebagai hal yang baik dan positif bagi suatu organisasi.
    Konflik tugas (task conflict) berhubungan dengan muatan dan tujuan pekerjaan. Konflik hubungan (relationship conflict) berfokus pada hubungan antarpersonal. Konflik proses (process conflict) berhubungan dengan bagaimana suatu pekerjaan dilaksanakan. Penjelasan tersebut menunjukan bahwa konflik hubungannya hamper sealu bersifat disfungsional, hal ini karena Gesekan atau permusuhan anatarpersonal yang melekat di dalam konflik hubungannya mempertajam pertentangan kepribadian dan mengurangi rasa saling perhatia,yang pada gilirannya menghambat penyelesaiaan tugas-tugas organisasi. Namun, tingkat konflik proses dan tingkat konflik tugas yang rendah sampai sedang bias menjadi konflik fungsional. Agar produktif, konflik proses harus dijaga tetap dalam tingkat yang rendah. Perdebatan yang tajam dan panas mengenai siapa yang harus melakukan apa, akan menjadi disfungsional ketika hal itu justru menciptakan ketidakpastian mengenai peran tugas masing-masing anggota, memperpanjang waktu penyelesaian tugas, dan menyebabkan para anggota harus mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Tingkat konflik tugas yang rendah sampai sedang selalu memperlihatkan efek positif pada kinerja kelompok karena memancing munculnya ide-ide segar dan baik yang membantu kinerja kelompok menjadi lebih baik.

    Sumber-Sumber Utama Penyebab Konflik
    Masalah muncul pasti memiliki sebab, begitu pula dengan konflik pasti memiliki penyebab yang menimbulkan konflik tersebut. Menurut Robbins (1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatar-belakanginya (antecedent conditions). Kondisi tersebut juga disebut sebagai sumber terjadinya konflik. Kondisi ini terdiri dari tiga ketegori yaitu  Komunikasi, Struktur, dan Variabel Pribadi. Pada penjelasannya sumber utama penyebab konflik adalah :

    1. Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang menimbulkan kesalah-pahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi kondisi ini akan menciptakan konflik. Pengertian struktur dalam hal ini digunakan dalam artian yang mencakup ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik. Makin besar kelompok, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik.

    1. Karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu memiliki keunikan (idiosyncrasies) dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu, misalnya, individu yang sangat otoriter, dan menghargai rendah orang lain, merupakan sumber konflik yang potensial. Jika salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan para anggota menyadari akan hal tersebut, maka munculah persepsi bahwa di dalam kelompok terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang dipersepsikan (perceived conflict). Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik berubah menjadi konflik yang dirasakan (felt conflict). Selanjutnya, konflik yang telah disadari dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah menjadi konflik yang nyata, jika pihak-pihak yang terlibat mewujudkannya dalam bentuk perilaku. Misalnya, serangan secara verbal, ancaman terhadap pihak lain, serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan sebagainya.

    1. Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

    1. Budaya di dunia ini beraneka ragam dengan perbedaan latar belakang kebudayaan tersebut tentu akan membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

    1. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.


    Teknik-Teknik Utama Memecahkan Konflik
    Konflik timbul karena ada penyebabnya, maka pasti kita dapat mencari jalan keluar dan memecahkan konflik tersebut sehingga pada lingkungan organisasi ini kita wajib untuk menguasai dan memahami cara memecahkan suatu konflik. Pada penjelasan ini saya akan menjelaskan mengeanai 4 teknik memecahkan masalah yaitu :
    1. Integrating (Problem Solving). = Dalam teknik ini pihak-pihak yang berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasikan masalah yang dihadapi, kemudian mencari, mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan masalah. Gaya ini cocok untuk memecahkan isu-isu kompleks yang disebabkan oleh salah paham (misunderstanding), tetapi tidak sesuai untuk memecahkan masalah yang terjadi karena sistem nilai yang berbeda. Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu yang lama dalam penyelesaian masalah.
    2. Dominating (Forcing). = Orientasi pada diri sendiri yang tinggi, dan rendahnya kepedulian terhadap kepentingan orang lain, mendorong seseorang untuk menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”. Gaya ini sering disebut memaksa (forcing) karena menggunakan legalitas formal dalam menyelesaikan masalah. Gaya ini cocok digunakan jika cara-cara yang tidak populer hendak diterapkan dalam penyelesaian masalah, masalah yang dipecahkan tidak terlalu penting, dan waktu untuk mengambil keputusan sudah mepet. Tetapi tidak cocok untuk menangani masalah yang menghendaki partisipasi dari mereka yang terlibat. Kekuatan utama gaya ini terletak pada minimalnya waktu yang diperlukan. Kelemahannya, sering menimbulkan kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang terlibat.
    3. Avoiding. = Taktik menghindar (avoiding) cocok digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sepele atau remeh. Gaya ini tidak cocok untuk menyelesaikan masalah - malasah yang sulit atau “buruk”. Kekuatan dari strategi penghindaran adalah jika kita menghadapi situasi yang membingungkan atau mendua (ambiguous situations). Sedangkan kelemahannya, penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok masalah.
    4. Compromising. = Gaya ini menempatkan seseorang pada posisi moderat, yang secara seimbang memadukan antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima (give-and-take approach) dari pihak-pihak yang terlibat.Kompromi cocok digunakan untuk menangani masalah yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki tujuan berbeda tetapi memiliki kekuatan yang sama. Misalnya, dalam negosiasi kontrak antara buruh dan majikan. Kekuatan utama dari kompromi adalah pada prosesnya yang demokratis dan tidak ada pihak yang merasa dikalahkan. Tetapi penyelesaian konflik kadang bersifat sementara dan mencegah munculnya kreativitas dalam penyelesaian masalah.

    Sumber Dari:
    • Stephen P. Robbins – Timothy A. Judge,  Perilaku Organisasi (Organizational Behavior), (ed.12). Salemba Empat.
    • Gibson, James L., et al., 1977. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Alih bahasa oleh Adriani. Jakarta: Binarupa Aksara.
    • Greenhalgh, Leonard, 1999. “Menangani Konflik”. Dalam A.Dale Timpe, (Ed.), Memimpin Manusia. Alih bahasa oleh Sofyan Cikmat. Jakarta: PT.Gramedia.
    • http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik 

    Senin, 31 Oktober 2011

    Flowchart dan Algoritma Kegiatan Sehari - hari

    Flowchart Kegiatan Kuliah:



    Algoritma :
    a.     Memulai dengan Bangun pagi kemudian membersihkan kamar tidur. 
    b.     Melaksanakan sholat shubuh lalu mandi pagi.
    c.     Melanjutkan sarapan pagi lalu berangkat ke kampus.
    d.     Setibanya di kampus menerima materi mata kuliah kemudian diberi tugas.
    e.     Melanjutkan untuk istirahat dan makan siang.
    f.      Kemudian sholat dzuhur dan masuk kembali ke kelas.
    g.      Masuk kelas kembali dan menerima materi mata kuliah.
    h.      Selesai menerima mata kuliah lalu pulang ke rumah.
    i.       Setibanya di rumah, mandi dan sholat ashar.
    j.       Melanjutkan menyicil mengerjakan tugas yang diberikan dosen tadi pagi.
    k.      Kemudian sholat maghrib dan menunggu waktu isya.
    l.        Melanjutkan shalat isya dan makan malam.
    m.     Menyudahi makan malam lalu belajar untuk mata kuliah besok dan 
             mempersiapkannya.
    n.       Mengakhiri belajar lalu tidur dengan nyenyak. 



         Waktu :
    Minggu, 30 Oktober 2011 - pukul ; 17.04